Pembaharuan Pemikiran Islam

MediaMuslim.Info – Problematika umat yang demikian pahit dan getir membuat sebagian kaum muslimin yang memiliki semangat dan kepedulian terhadap perkembangan Islam dan kaum Muslimin meneteskan air mata dan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut, akan tetapi sebagian mereka salah dalam mengambil pedoman dan sebagian yang lain masih bingung, dengan apa mereka dapat membangkitkan kembali kejayaan Islam dan kaum Muslimin yang telah lama hilang dan runtuh.

Masing-masing kelompok mencoba mengetengahkan ungkapan yang keluar dari pemahaman atas kondisi saat ini dengan berbagai metode, yang antara satu metode dengan metode yang lain saling bertolak belakang. Setiap kelompok memandang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kacamata mazhab fiqih mereka. Dalam soal perbedaan pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah harus mengikuti pendapat mereka, apalagi yang ada kaitannya dengan soal hukum.

Dinamika ilmu pengetahuan dan pendidikan saat ini juga sedang mengalami kejumudan yang sangat parah. Sangat jarang dan bahkan sedikit sekali para pemuda yang tertarik atau mendalami ilmu agama atau ilmu-ilmu lain yang bermanfaat kemudian menjadi imam atau orang yang sangat menguasai dalam masalah tersebut. Sehingga yang muncul adalah pemahaman yang sepotong-sepotong terhadap segala permasalahan. Setiap orang ingin berbicara dan mengemukakan pendapatnya dalam masalah-masalah yang sebenarnya dia tidak memiliki pijakan dasar dan tidak menguasai dalam masalah tersebut, akhirnya terjadi kerancuan-kerancuan dalam banyak masalah. Masing-masing menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar, sehingga muncul anggapan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, kebenaran hanya bersifat relatif. Keyakinan ini sungguh sangat bathil dan bertentangan dengan hukum-hukum Alloh. Yang lebih parah lagi ialah pola pikir ini telah meracuni pemikiran sebagian kelompok dalam memahami Islam.

Setiap kelompok mengklaim bahwa merekalah yang paling berjasa dan berjuang untuk Islam. Diantara mereka ada yang memahami bahwa Islam hanyalah mengajak orang untuk shalat berjamaah di masjid dan menyibukkan diri dengan melakukan berbagai macam bentuk beribadatan yang hanya tesbatas di masjid dan melupakan aspek-aspek yang lain, sementara orang yang tidak melakukan sebagaimana yang mereka lakukan dianggap tidak berbuat apa-apa. Begitu juga ada yang memahami bahwa Islam adalah kegiatan berpolitik segala sisi kehidupan mereka pandang dengan kacamata politik, mereka merasa paling berjuang untuk Islam dan menganggap bahwa orang yang tidak melakukan sebagaimana yang mereka lakuakan dianggap tidak punya andil terhadap perjuangan kaum Muslimin. Sebagian yang lain menganggap bahwa Islam akan jaya jika ekonominya maju, mereka menyibukkan diri dengan memikirkan masalah ekonomi sedang sisi-sisi yang lain bahkan yang paling mendasar yaitu masalah aqidah mereka abaikan. Memang benar itu bagian dari Islam, akan tetapi itu bukanlah keseluruhan dari Islam.

Pada masa-masa akhir ini orang-orang mulai salah dalam memahami Islam. Ketika mereka memahami Islam, mereka memahaminya secara sepotong-sepotong, persis seperti tiga orang buta memegang gajah. Orang yang pertama memegang bagian ekor gajah dan mengatakan bahwa gajah adalah binatang yang kecil bulat memanjang. Orang kedua memegang bagian perut dari gajah dan mengatakan bahwa salah kalau mengatakan bahwa gajah bentuknya bulat dan kecil, gajah adalah binatang yang besar dan lebar seperti tembok. Orang yang ketiga mengatakan bahwa salah kalau mengatakan gajah seperti yang orang pertama dan kedua katakan, gajah bentuknya lonjong, ukurannya sedang dan ujungnya agak melingkar kebawah semakin kebawah semakin kecil, ini benar karena dia memegang belalai gajah. Orang-orang mengatakan ketiga orang ini tsiqah dan jujur dan semuanya mengaku memegang gajah. Tapi apakah yang mereka katakan dapat mewakili dari gajah?

Dalam hal amal perbuatan, setiap kelompok ingin terlihat menonjol dari kelompok lainnya.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menjelaskan bahwa Islam ibarat bangunan. Dan kita tahu bahwa suatu bangunan tidak mungkin bisa tegak dan kokoh melainkan memerlukan banyak unsur yang membentuknya. Kita dapati pada masa sekarang orang-orang yang memperjuangkan Islam ingin dilihat bahwa kelompoknya lah yang paling memberikan andil dalam Islam.  Bagaimana mungkin bangunan Islam akan kokoh dan tampak indah jika masing-masing bagian dari bangunan itu ingin terlihat dari luar? Bisa kita membayangkan seandainya besi yang merupakan bagian fital dari bangunan ingin terlihat dari luar, batu bata, semen, batu kali, dan pasir, sama-sama ingin tampak dari luar maka, bangunan yang terbentuk akan sangat rapuh dan sangat buruk dilihat mata.

Dalam situasi demikian, kaum Muslimin memerlukan petunjuk untuk membebaskan diri dari kondisi yang membelenggu. Mereka mendambahkan seorang tokoh yang berpandangan luas tentang fiqih Islam, mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnnah, mengetahui sejarah sejak kurun awal, memahami ilmu ushul fiqih, memengetahui waqie’ (kondisi) kaum muslimin pada masa awal maupun masa-masa akhir.

Saat  ini, cakrawala ilmu pengetahuan, kesempatan berdiskusi dan pendalaman agama telah dipersempit sedemikian rupa sehinggga melemahkan pikiran. Jarang ada seorang Ulama Islam yang berani menggali hukum baru. Akibatnya, fiqih Islam telah kehilangan kesempatan untuk maju dan berkembang. Bahkan dapat dikatakan mustahil untuk bisa bertambah dari pusaka fiqih terdahulu. Padahal kemusykilan selalu saja muncul.

Untuk memperbaiki keadaan tersebut diperlukan seorang pakar pembaharu yang memiliki kemampuan di bidang fiqih dan ushul, telah menekuni perbendaharaan perpustakaan Islam dan menangkap rahasianya. Mamahami Al-Qur’an dan As-Sunnah saat orang lain masih kebingungan, dan mengetahui pula Hadits dengan segala macam tingkatan, dan pengumpulannya dengan sempurna.

Lebih dari itu, dia juga harus menguasai benar terhadap perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih lengkap dengan referensi dan dalil-dalil mereka di setiap masa. Dia juga mengetahui dengan jelas mazhab-mazhab fiqih yang lain dengan cabang-cabangnya yang amat banyak. Dia tidak melampaui ulama-ulama dalam ber-istinbath (menggali hukum). Dia mengakui kedudukan para imam mujtahid berikut keutamaan dan hak mereka.

Dia menguasai ilmu bahasa sehingga mampu memberikan sanggahan, bahkan dia sangat menguasai ilmu nahwu setingkat dengan pakarya. Dengan kekuatan dan kejeliannya dia mampu memperbaharui periode muhadditsin terdahulu. Dia juga memiliki kecerdasan dan kepribadian yang agung sebagai bukti kesediaannya membangun umat Islam dan menyelamatkan panji-panji Islam. Sehingga dia menjadi bukti kebenaran sabda nabi yang abadi, yang artinya: “Perumpamaan umatku itu seperti hujan. Tidak diketahui apakah yang pertama yang paling baik ataukah yang akhir.” (HR. Tirmidzi).

3 Komentar »

  1. weli said

    ntah lah aku bingung

  2. Nilloxise said

    ford albuquerque

  3. Elfizon Anwar said

    Pembaruan pemikiran Islam, suka tidak suka, kita harus kembali kepada keyakinan kita akan kebenaran Islam. Islam diturunkan ke dunia tidak lain untuk ‘umat manusia’ bukan semata umat Muslim, yang berujung kepada keyakinan akan pada puncak iman, yakni ‘tidak ada Tuhan selain ALLAH’. Kenyataan sejarah, orang Muslim yang melecehkan Islam, ternyata di dunia saja mereka sudah di buktikan kegagalannya.

    Seorang tokoh yang menggongkan ‘Islam, Yes. Partai Islam, No’, tatkala beliau ingin mencalonkan dirinya menjadi presiden, ternyata tidak ada satu partai pun yang ‘berkeinginan’ untuk melamarnya menjadi kandidat partainya sebagai calon presiden. Ada pula tokoh lain, yang menolak menjadi ‘ketua umum’ partai berlebel dan berasas Islam, dia berhasil mendirikan partai kebangsaan dan kenasionalan, ternyata ‘partai’-nya ini tak pula berhasil masuk ‘tiga besar’. Lalu, dia pun mencalonkan diri menjadi calon presiden, ternyata walaupun dia telah dikokohkan sebagai pahlawan reformasi, juga berhasil dalam kekalahan, demi kekalahan.

    Menurut hemat saya yang awam dengan ajaran Islam, seyogianya kita tidak perlu memperuncing seseorang, kelompok atau apalah namanya, yang ingin menggunakan Islam atau tidak ingin menggunakan ‘lebel’ Islam. Seorang atau sekelompok Muslim, mereka berani memakai merek Islam, silahkan tapi ingat, dipundaknya terpikul ‘amanat’ Syiar Islam. Sebaliknya, mereka tidak berani memakai lebel Islam, tetap saja dia dituntut sebagai seorang Islam, yang juga harus memikul ‘amanat’ Islamnya, sekurang-kurangnya bagi diri dan keluarganya.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: