Sikap Keras & Lembut Dalam Berdakwah

MediaMuslim.Info – Tidak jarang terjadi, bahwa orang-orang yang meremehkan dakwah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala bila mereka memandang kepada orang-orang yang pertengahan yang berpegang pada agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala apa adanya, niscaya mereka akan mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang sesat, mereka adalah orang-orang yang terlalu berlebih-lebihan, mereka terlalu keras”. (Padahal mereka di atas Al-Haq)

Dan (sebaliknya) jika orang-orang yang berlebih-lebihan memandang mereka (yang bersikap pertengahan), maka mereka akan mengatakan: “Kalian adalah orang-orang yang terlalu banyak melakukan penyimpangan, tidak menegakkan Al-Haq dan tidak memiliki ghirah terhadap agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala.”

Oleh karena itu, kita tidak boleh membuat ukuran kekerasan dan kelembutan mengikuti apa yang dibisikkan oleh nafsu dan perasaan kita; sebaliknya kita harus membuat ukuran berdasarkan petunjuk Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para sahabat beliau.

Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menggariskan hal ini dengan perkataan, perbuatan dan kondisi beliau. Apabila persoalannya pada penggunaan kekerasan ataukah kelembutan; dalam artian bila antum dalam kondisi yang dilematis dan tidak mengetahui apakah keberhasilannya pada penggunaan kekerasan atau pada penggunaan kelembutan dan kemudahan, maka cara apakah yang antum tempuh? Tidak diragukan lagi bahwa antum –wahai sang dai- harus menempuh jalan kemudahan, karena Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah”.(Bagian Hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 39 dalam Kitab Al-Iman, bab “Ad-din Yusr” dari Hadist Abu Hurairah)

Dan ketika beliau mengutus Mu’adz dan Abu Musa Al-Asy’ari ke Yaman beliau Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mudahkanlah (kalian) berdua dan janganlah mempersulit, gembirakanlah (kalian berdua) dan jangan membuat (orang) lari”. (Bagian dari Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4341 dan 4342 dalam kitab Al-Maghazi, dan juga beliau keluarkan dengan no. 4345. Dan diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1733 dalam kitab Al-Jihaad  wa As-Sair dari hadits Abu Burdah).

Dan ketika seorang Yahudi lewat di hadapan Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:

“Kematianlah buatmu wahai Muhammad!”. Sementara ‘Aisyah yang mendampingi Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dan bagimulah kematian dan laknat.” Namun Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu Maha Lembut mencintai kelembutan, dan sesungguhnya Alloh akan memberikan dengan kelembutan apa yang tidak diberikan dengan kekerasan.” (HR. Muslim no. 2593 dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah dari Hadits Aisyah)

Maka bila kita mengambil kalimat terakhir pada hadits ini “Sesungguhnya Alloh akan memberikan dengan kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya dengan kekerasan”, kitapun mengetahui bahwa sebuah persoalan berputar pada penggunaan kekerasan atau kelembutan/kemudahan maka yang paling utama adalah penggunaan kemudahan, dengan mempercayai sabda Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya Alloh Ta’ala akan memberikan dengan kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya dengan kekerasan.

Dan barangsiapa yang ingin memahami persoalan ini maka hendaknya ia mencobanya, karena anda –wahai dai- bila menghadapi objek dakwah dengan kekerasan niscaya ia akan merasa benci dan lari serta menghadapi anda dengan kekerasan pula. Jika ia seorang awam, ia akan mengatakan: “Saya mempunyai ulama yang lebih berilmu daripada engkau.” Jika ia seorang penuntut ilmu maka ia akan mendebat anda walaupun dengan kebatilan yang sangat jelas menurut anda, dan diapun mengetahui (sebagai kebatilan) dengan jelas. Akan tetapi ia enggan kecuali untuk memenangkan dirinya sendiri karena ia tidak menemukan kelemahlembutan pada diri anda, sementara dakwah kepada Alloh Ta’ala seharusnya dengan hikmah dan peringatan yang baik.

Dan kebenaran itu tidak akan tersembunyi kecuali bagi dua jenis manusia; orang yang berpaling dan orang yang sombong. Adapun orang yang selalu menerima kebenaran, tunduk dan patuh terhadapnya maka tidak diragukan lagi ia akan mendapat taufiq (dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala).

(Disadur dari: Ash-Shahwah Al-Islamiyah, Dhawabith wa Taujihat, Oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: